Kalau ia muda, dianggap kurang pengalaman
Tapi bila rambutnya beruban, ia dianggap terlalu tua
Kalau keluarganya besar, ia adalah beban jemaat
tetapi tidak mempunyai anak, doanya tidak manjur
Kalau isteri/suaminya aktif, dituduh mau menonjolkan diri
Kalau tidak aktif, dianggap tidak mendukung pelayanan suami/istri
kalau khotbahnya membaca, sangat membosankan
kalau luar kepala, tandanya tidak mempersiapkan diri
Kalau berusaha melakukan pembaharuan, dituduh sewenang-wenang
Kalau hanya melanjutkan apa yang ada, ia dianggap tidak kreatif
Kalau khotbahnya banyak ilustrasi, dituduh kurang alkitabiah
Kalau mendalam, dianggap terlalu kaku
Kalau khotbahnya panjang, membuat orang mengantuk
Kalau khotbahnya pendek, ia pendeta pemalas
Kalau gagal menyenangkan hati seseorang, artinya ia menyakiti hati jemaatnya
Kalau berusaha menyenangkan hati semua orang, dituduh penjilat.
Kalau terus terang dalam kebenaran, ia dianggap sengaja menyinggung perasaan
Kalau tidak berterus terang, dianggap pengecut dan penakut.
Ia mesti bijak seperti burung hantu,
gagah berani laksana burung rajawali
Rendah hati seperti burung merpati
Bersedia makan apa saja seperti burung kenari
Ia dituntut mesti menjadi:
seorang ekonom hebat,
seorang politikus handal,
seorang pencari dana untuk pelayanan,
seorang penasihat perkawinan
bapak/ibu yang berwibawa,
sopir taksi yang ramah,
orator yang ulung dan gembala yang arif.
Ia mesti melawat semua orang sakit, semua orang kawin dan semua orang mati
Ia mesti bisa bergaul dengan anak-anak, remaja, pemuda sampai orang tua
Ia mesti pandai bicara dan menulis
Ia mestilah ..... haruslah ...... inilah ..... itulah .....
***
(Dikutip dari Buku Panduan Konsultasi Pendeta Gereja Toraja, 7-11 Agustus 1995, sebagaimana diterjemahkan dari puisi yang berjudul ”Poem of the Shadow”, yang dimuat dalam buku Spiritualitas Nomor 7, diterbitkan oleh LAI dalam kerja sama dengan Pengurus Pusat BKS-PGI-GMKI, tahun 1994).